Perancis Desak Penyelesaian Dialog dari Peningkatan Kerusuhan di Yaman

Prancis pada Senin (29/1) menyampaikan keprihatinan sehubungan dengan peningkatan kerusuhan di Yaman, dan menyeru semua pihak yang berperang agar “terlibat dalam dialog” agar tidak “menghalangi penyelesaian krisis”, kata Kementerian Luar Negeri Prancis.

“Prioritas di Yaman ialah melanjutkan perundingan yang mengarah kepada penyelesaian politik, satu-satunya cara untuk memelihara integritas wilayah negeri itu, memulihkan perdamaian dan keamanan dalam jangka panjang, dan mengakhiri kondisi kemanusiaan tragis,” kata Kementerian tersebut.

Penting buat semua pihak di Yaman untuk melanjutkan perundingan perdamaian di bawah pengawasan PBB, tambah pernyataan itu.

Prancis, sebagaimana dilaporkan Xinhua, Selasa (30/1), mendesak semua pihak yang berperang agar menghormati hukum kemanusiaan internasional guna memungkinkan “akses penuh, tanpa syarat dan tanpa pengekangan bagi bantuan kemanusiaan”.

Pada Ahad (28/1), bentrokan sengit baru meletus antara pasukan yang setia kepada Pemerintah Yaman, yang didukung internasional, dan pasukan yang bersekutu dengan Dewan Peralihan Selatan di Kota Pelabuhan Aden.

Bentrokan bersenjata tersebut menewaskan 21 orang dan melukai tak kurang dari 100 orang lagi.

Sejak 2015, Yaman telah menderita akibat perang saudara dan campur-tangan militer pimpinan Arab Saudi.

Pertempuran militer selama satu tahun antara gerilyawan Syiah Al-Houthi, yang bersekutu dengan Iran dan menguasai Ibu Kota Yaman, Sana’a, dan persekutuan militer pimpinan Arab Saudi –yang mendukung pemerintah yang berpusat di Yaman Selatan– telah membawa negeri itu menuju krisis kemanusiaan dan kelaparan terburuk di dunia.