Hamas: Anggota Parlemen Palestina Disiksa Secara Brutal di Penjara Israel

Hamas, dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada hari Rabu (21/2/18), mengumumkan bahwa anggota Dewan Legislatif Palestina berusia 50 tahun Abdel Nasser Abdel-Jawad berada di balik jeruji di penjara Kishon (al-Jalameh) keamanan tinggi di Tepi Barat utara selama 50 hari terakhir.
 
Gerakan perlawanan Islam Palestina, Hamas, mengkritik rezim Tel Aviv karena menundukkan anggota parlemen yang berafiliasi dengan kelompok tersebut dalam berbagai bentuk penyiksaan dimana dia dipenjara di Israel tanpa diadili atau diajukan.

Hamas, dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada hari Rabu (21/2/18), mengumumkan bahwa anggota Dewan Legislatif Palestina berusia 50 tahun Abdel Nasser Abdel-Jawad berada di balik jeruji di penjara Kishon (al-Jalameh) keamanan tinggi di Tepi Barat utara selama 50 hari terakhir.

Pernyataan tersebut menambahkan bahwa legislator telah “disiksa, ditekan dan diancam sejak penangkapannya.”

Hamas mencatat bahwa sebuah pengadilan militer Israel telah memperpanjang penahanan Abdel-Jawad beberapa kali “tanpa membiarkan dia bertemu dengan pengacaranya.”

Abdel-Jawad ditangkap pada 1 Januari saat pasukan militer Israel menyerbu rumahnya di kota Deir Ballut, yang terletak 41 kilometer (25 mil) barat daya Nablus.

Dia adalah anggota blok parlemen Perubahan dan Reformasi yang berafiliasi dengan Hamas, dan sebelumnya telah menghabiskan lebih dari 16 tahun di penjara Israel.

Pada tanggal 22 Januari, pasukan militer Israel menahan seorang legislator yang terkait dengan gerakan perlawanan Hamas yang berbasis di Gaza bersama lebih dari selusin warga Palestina lainnya selama penggerebekan terpisah di Tepi Barat yang diduduki.

Sumber lokal, yang meminta tidak disebutkan namanya, mengatakan bahwa pasukan Israel menggerebek kota Salfit, Tepi Barat, masuk ke rumah Omar Abdul-Razeq dan menahannya.

Lebih dari 7.000 warga Palestina dilaporkan ditahan di penjara-penjara Israel. Ratusan narapidana tampaknya telah dipenjara di bawah praktik penahanan administratif, sebuah kebijakan dimana narapidana Palestina ditahan di fasilitas penahanan Israel tanpa diadili atau diajukan.

Beberapa tahanan Palestina ditahan dalam penahanan administratif hingga 11 tahun.

Narapidana Palestina secara teratur melakukan mogok makan dalam demonstrasi mengenai kebijakan penahanan administratif dan kondisi penjara mereka yang keras di penjara-penjara Israel.

Menurut laporan, setidaknya 13 anggota parlemen Palestina saat ini dipenjara di fasilitas penahanan Israel. Sembilan dari mereka ditahan tanpa diadili di bawah penahanan administratif.

 
sumber – IslamTImes
%d bloggers like this: