Angkatan Laut Libya Ragukan Laporan 90 Imigran Tewas Tenggelam

Angkatan Laut Libya, Jumat (2/2), mempertanyakan kebenaran laporan mengenai kapal yang membawa 90 imigran gelap dan terbalik di lepas pantai Kota Zuwara, 120 kilometer di sebelah barat Tripoli, kata Juru Bicara Ayob Qassem.

“Laporan yang disiarkan oleh organisasi internasional mengenai kapal dengan 90 imigran gelap yang terbalik di lepas pantai Kota Zuwara tidak pasti dan dipertanyakan sebab laporan tersebut tidak didasarkan atas sumber atau bukti yang akurat,” kata Juru Bicara Angkatan Laut Libya itu kepada Xinhua –yang dipantau di Jakarta, Sabtu (3/2).

Pada Jumat pagi, Organisasi bagi Migrasi Internasional (IOM) mengumumkan bahwa hampir 90 imigran dikhawatirkan tewas-tenggelam di lepas pantai Zuwara, dan tiga imigran selamat serta mencapai pantai.

Sebanyak 10 mayat, dua warga negara Libya dan delapan berkebangsaan Pakistan, dilaporna telah hanyut ke pantai Libya, kata IOM.

“Jika organisasi tersebut yang mengumumkan laporan ini tidak memberi bukti mengenai keabsahaannya, kami akan menuntut mereka bersekongkol dengan jaringan penyelundup dan menyiarkan keterangan palsu serta menyesatkan yang berusaha memperlihatkan Libya tidak manusiawi kepada masyarakat internasional,” kata Qassem.

Juru bicara itu mengatakan dua kapal patroli Penjaga Pantai dikirim untuk menyelidiki pantai tersebut, yang pertama dari Tripoli pada pukul 05.00 waktu setempat (10.00 WIB), dan yang kedua tiga-setengah jam kemudian.

“Pencarian dilakukna di seluruh pantai Zuwara, dan tak ada mayat akibat kapal tenggelam yang ditemukan,” kata Qassem.

Ibrahim Mohammed, pejabat dari Bulan Sabit Merah di Zuwara, juga membantah ada kecelakaan kapal di lepas pantai kota tersebut pada Jumat. Ia mengatakan semua mayat yang hanyut ke pantai adalah imigran di satu kapal yang terbalik dua hari sebelumnya.

“Direktorat Keamanan Zuwara telah menemukan mayat imigran sejak Rabu malam, dan jumlah seluruh mayat yang ditemukan sejauh ini adalah 13, termasuk seorang perempuan Libya,” kata Mohammed kepada Xinhua.

“Kami menghubungi Penjaga Pantai dan Direktorat Keamanan, dan mereka memperkirakan bahwa kapal itu, yang tenggelam dua hari lalu, mungkin telah membawa 40 imigran,” ia menambahkan.

Setelah aksi perlawanan 2011 di Libya, kondisi tidak aman dan kekacauan di negeri tersebut telah membuatnya menjadi tempat pilihan bagi keberangkatan imigran yang berharap bisa menyeberangi Laut Tengah menuju pantai Eropa.