AMERIKA SERIKAT (voa-islam.com) – Pasukan AS tidak akan ditarik dari posisi mereka di kota strategis Manbij, seorang pejabat senior militer AS mengatakan kepada CNN, meskipun permintaan Turki menyusul serangan militer Ankara terhadap pasukan Kurdi di Suriah utara.

Ankara sebelumnya berjanji untuk maju ke daerah tersebut setelah Operation Olive Branch di Affrin, yang berisiko pasukan AS terjebak dalam serangan militer Turki di Suriah.

Manbij adalah kota mayoritas Arab yang terletak 25 mil selatan perbatasan Suriah-Turki.

Jenderal Joseph Votel, seorang komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), mengatakan bahwa setiap pembicaraan mengenai penarikan mundur dari Manbij adalah “bukan sesuatu yang kita cari”.

Turki meluncurkan Operation Olive Branch pada tanggal 19 Januari dalam upaya untuk mendorong Unit Perlindungan Rakyat Kurdi dari Affrin.

Operasi tersebut telah meningkatkan ketegangan antara Turki dan AS, yang secara terbuka mempersenjatai pasukan Komunis Kurdi sebagai bagian dari pertempuran melawan Islamic State (IS).

Pada hari Rabu, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berbicara dalam sebuah panggilan telpon, namun laporan yang bertentangan telah mengotori perairan tersebut.

Menurut Gedung Putih, Trump “mendesak Turki untuk berhati-hati dan menghindari tindakan yang mungkin menimbulkan risiko konflik antara pasukan Turki dan Amerika”.

Namun menteri luar negeri Turki mengatakan pada hari Kamis bahwa Erdogan meminta Trump untuk menarik pasukan AS dari Manbij.

Manbij dipegang oleh Dewan Militer Manbij, sebagian besar pasukan Arab terdiri dari penduduk setempat.

MMC selaras dengan mitra koalisi AS Tentara Demokrat Suriah (SDF) – MMC dibentuk untuk mempertahankan Manbij dari IS setelah SDF mendorong kelompok tersebut keluar kota itu pada Agustus 2016.

Menurut CNN, dua pejabat pertahanan AS mengatakan awal bulan ini bahwa militer AS sering berpatroli di wilayah Manbij, dengan tujuan untuk mencegah serangan dari Turki. (st/TNA)